Pengumuman Nilai Mata Kuliah 19 Agustus 2019; Pendaftaran Mahasiswa Baru 14 Februari - 7 Agustus 2019; Registrasi Mata Kuliah 10 Juni - 28 Agustus 2019; Pendaftaran Ujian Online Mata Kuliah Ulang 10 Juni - 2 September 2019;

Pembayaran Uang Kuliah 10 Juni - 3 September 2019; Registrasi TTM Atas Permintaan Mahasiswa 10 Juni - 4 September 2019; Aktivasi Tutorial Online dan Pengisian Form Kesediaan 1 Agustus - 16 September 2019;

tapal kuda02

 

Pada saat didirikan tahun 1984 hingga 2012, wilayah kerja UT Jember meliputi 5 (lima) kabupaten, yaitu kabupaten Jember (lokasi kantor UT Jember), Lumajang, Bondowoso, Banyuwangi, dan Situbondo. Sejak tahun 2013, UT jember mendapatkan tambahan 2 (dua) wilayah baru, yaitu kabupaten dan kota Probolinggo, yang sebelumnya masuk wilayah kerja UT Malang. Penetapan wilayah kerja ini didasarkan pada SK Rektor UT Nomor 9692/UN31/KEP/2012 tanggal 27 Desember 2012, dan wilayah kerja UT Jember meliputi 7 (tujuh) kabupaten/kota di wilayah Tapal Kuda, yaitu kabupaten Jember (lokasi kantor UT Jember), Kabupaten Lumajang, Bondowoso, Probolinggo, Banyuwangi, Situbondo, dan kota Probolinggo. Di dalam konsideran SK Rektor tersebut dinyatakan bahwa tujuan pembagian wilayah kerja ini adalah untuk lebih meningkatkan kualitas pelayanan terhadap mahasiswa UT di daerah.

Tapal Kuda, adalah nama sebuah kawasan di provinsi Jawa Timur, tepatnya di bagian timur. Dinamakan Tapal Kuda, karena bentuk kawasan tersebut dalam peta mirip dengan bentuk tapal kuda. Kawasan Tapal Kuda meliputi Pasuruan (bagian timur), Probolinggo, Lumajang, Jember, Situbondo, Bondowoso, dan Banyuwangi. Tapal kuda merupakan wilayah subkultur di Jawa Timur yang memiliki sejarah panjang pemberontakan. Penghuni tapal kuda mayoritas adalah etnis Madura. Meski ada minoritas etnis Jawa, namun pengaruh Madura yang sangat kuat menyebabkan karakter budaya di wilayah ini lebih beraroma Madura. Orang-orang tapal kuda juga sangat identik dengan Islam.

Pada masa Majapahit, tapal kuda masuk menjadi wilayah Majapahit Timur. Sedangkan pada masa Mataram, tapal kuda disebut Blambangan. Keberanian luar biasa adalah karakter masyarakat tapal kuda. Konon, menurut cerita, Majapahit di Probolinggo pernah direpotkan oleh pemberontakan Minak Djinggo. Selain Majapahit, VOC juga mendapat kesulitan di sini. Untung Suropati, anak Bali yang diasuh Belanda dan akhirnya diburu oleh tuannya sendiri itu memperoleh dukungan yang amat kuat di sini, hingga akhirnya sanggup membangun kerajaan di Pasuruan.

Kendatipun berada di pulau Jawa, namun mayoritas penduduk Tapal Kuda adalah masyarakat Madura atau berbahasa Madura. Tapi anehnya mereka banyak yang enggan disebut Madura dan lebih suka disebut sebagai orang pendhalungan atau campuran, dikarenakan nenek moyang mereka yang merupakan pembauran antara etnis Jawa dan Madura, atau orang Jawa yang "dimadurakan" sebagaimana orang Jawa yang "dimelayukan" di Malaysia. Sedangkan etnis Jawa sendiri lebih banyak menghuni kawasan selatan Tapal Kuda, utamanya Lumajang, Jember Selatan dan Banyuwangi Selatan. Bahkan uniknya kebanyakan penduduk Tapal Kuda tidak mengerti bahasa Jawa. Sedangkan komunitas lainnya adalah Masyarakat Budaya Osing yang menghuni kawasan tengah Banyuwangi, Masyarakat Tengger di wilayah Bromo, kelompok kecil etnis Bali di wilayah Banyuwangi dan tentunya suku Tionghoa dan Arab yang tersebar dikota-kota utama kawasan itu.

Sedangkan ditinjau dari segi kebudayaan, budaya yang dominan adalah budaya Madura, beberapa perbedaan dengan budaya Madura di tanah leluhurnya di Pulau Madura. Kebudayaan Jawapun terbagi antara budaya Arekan (Jawa Timuran) dan Mataraman yang terpusat dipantai selatan. Sedangkan masyarakat Tengger dan Osing membentuk budayanya sendiri. Namun yang paling populer adalah kebudayaan masyarakat Osing yang sangat berwarna karena pengaruh Jawa-Madura dan Bali yang kuat, dan menjadi ikon khas bagi Jawa Timur, seperti Gandrung Banyuwangi hingga Banyuwangi dijuluki sebagai Kota Gandrung dan banyak seni budaya lokal yang tidak dijumpai didaerah manapun di Jawa. Wayang Topeng berbahasa Madura dan Ludruk berbahasa Madurapun juga populer di Tapal Kuda selain kesenian-kesenian bernafaskan Islam.

Sumber: Sejarah Tapalkuda: https://imatacommunity.wordpress.com/sejarah-tapalkuda/

Dokumen: SK Rektor UT Nomor 9692/UN31/KEP/2012 tanggal 27 Desember 2012