UT Kebut Transformasi Menjadi PTN-BH

 

          Dalam rangka mewujudkan transformasi Universitas Terbuka (UT) yang berstatus Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Layanan Umum (PTN-BLU) menuju Perguruan Tinggi Negeri Berbadan Hukum (PTN-BH), UT menggelar Rapim Plus untuk membahas Statuta UT sebagai PTN-BH. Bertempat di Universitas Terbuka Convention Center, Tangerang Selatan (10/05/2021), Rapim Plus ini juga bentuk tindak lanjut atas rekomendasi Tim Penilai dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yang diberikan pada tanggal 17 Maret 2021 setelah Rektor UT memberikan paparan pertama rencana UT menjadi PTN-BH.

transformasi ptnbh 1

         Upaya UT ini di mulai sejak Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 109 Tahun 2013 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) pada Pendidikan Tinggi. Hal ini telah membuka kesempatan kepada seluruh Perguruan Tinggi (PT) yang memenuhi syarat untuk menyelenggarakan PJJ. UT sebagai Perguruan Tinggi Negeri yang pertama dan terdepan dalam penyelenggaraan PJJ akan sulit untuk mewujudkan mimpinya sebagai PTN berkelas dunia jika masih berstatus PTN-BLU.

       Dalam jumpa pers, Rektor UT Prof. Ojat Darojat, M. Bus., Ph.D., menjelaskan mengapa UT perlu bertransformasi menjadi PTN-BH, “status UT saat ini sebagai PTN-BLU sudah tidak memadai lagi, kita tidak bisa merespons secara cepat terhadap semua perubahan, tuntutan dan dinamika yang terus berlangsung di tengah masyarakat”. Solusi strategis yang perlu dilakukan untuk saat ini adalah UT harus bertransformasi menjadi PTN-BH. Dengan menuju PTN-BH maka UT akan mendapatkan otonomi yang lebih luas dari berbagai aspek seperti bidang akademik, pengelolaan aset dan penyediaan sumber daya manusia.

transformasi ptnbh 2

        Prof. Ojat menyampaikan, “Saat UT menjadi PTN-BH, ada strategi inti yang akan kita lakukan yaitu Blue Ocean Strategy atau Strategi Laut Biru”. Beliau juga memprediksi ke depannya pembelajaran yang paling relevan adalah blended learning atau hybrid leaning yaitu perpaduan antara pembelajaran tatap muka dan online. Diharapkan dengan dua pendekatan ini bisa menjadi alternatif penyelenggaraan pendidikan yang lebih efektif dan efisien. (Fadhik)