
JEMBER & BANYUWANGI – Pernah membayangkan masuk kuliah tapi tidak punya gedung kelas, tidak ketemu dosen tiap hari, lalu tiba-tiba di depan pintu rumah ada paket buku setebal bantal kesehatan? Itulah sensasi menjadi mahasiswa Universitas Terbuka (UT).
Menjadi mahasiswa Universitas Terbuka (UT) itu sebenarnya adalah ujian iman tingkat tinggi. Bayangkan, kamu kuliah tapi nggak punya kampus fisik yang bisa dipakai buat pamer outfit tiap pagi. Musuh utamamu bukan dosen killer yang suka telat, tapi rasa malas di kamar sendiri dan tumpukan buku setebal dosa yang datang lewat paket kurir.
Sadar bahwa potensi mahasiswanya menjadi "zombi kebingungan" itu cukup besar, UT Jember pun menggelar ritual sakral bernama OSMB (Orientasi Studi Mahasiswa Baru) dan PKBJJ (Pelatihan Keterampilan Belajar Jarak Jauh) Tahap 1 Masa 2025/2026 Genap.

Acara ini digelar serentak pada 7-8 Februari 2025 di dua tempat yang cukup mentereng—biar mahasiswa baru nggak kaget-kaget amat kalau ternyata kuliah di UT itu keren. Ada 250 orang yang dikumpulkan di Hotel Royal Jember (skuad Jember dan Bondowoso) dan 250 orang lagi di Hotel Santika Banyuwangi (pasukan The Sunrise of Java).
Belajar Mandiri atau Belajar Sendirian?
Masalah utama mahasiswa baru UT adalah sering gagal fokus antara "belajar mandiri" dengan "merasa sendirian". Nah, di sinilah LPKBJJ (Layanan Pendukung Kesuksesan Belajar Jarak Jauh) masuk sebagai juru selamat.
Di Hotel Royal dan Santika kemarin, 500 orang ini tidak diajak ospek ala militer atau disuruh pakai kaos kaki beda warna. Mereka justru diajak "berkenalan" dengan jati diri UT. Mereka diajari bahwa fasilitas UT itu mewah, asal mau klik. Masalahnya, kadang mahasiswa lebih lihai klik keranjang kuning daripada klik layanan online UT.
Strategi Melawan Modul yang Lebih Tebal dari Kamus
Puncak penderitaan—eh, perjuangan—mahasiswa UT adalah saat berhadapan dengan modul. Dalam sesi PKBJJ, para mahasiswa baru ini dibekali cara membaca modul yang benar. Ya, membaca modul itu ada tekniknya, Kawan. Kalau cuma dibaca dari depan ke belakang kayak baca komik One Piece, yang ada malah ketiduran di halaman lima.
Mereka diajarkan gaya belajar efektif. Bagaimana membedah materi, cara mengakses tutorial online, hingga bagaimana cara tetap waras meski belajar sambil bekerja. Intinya, UT ingin mahasiswanya menjadi manusia yang self-regulated, bukan manusia yang baru gerak kalau disenggol nilai E.
Direktur UT Jember, yang sepertinya sudah paham betul gaya mahasiswa yang suka menunda-nunda, memberikan wejangan yang cukup "jleb" buat para peserta “Sebagai mahasiswa UT yang tangguh dalam belajar mandiri, mahasiswa wajib mengikuti kegiatan ini agar tau, agar paham dan sukses menempuh studi di UT,” tegas beliau. Kalimat ini kalau diterjemahkan secara bebas kira-kira bunyinya begini: "Jangan manja, jangan malas cari tahu, dan ikuti prosedurnya kalau nggak mau nambah semester lebih lama dari masa jabatan kades."
Keluar dari hotel, 500 mahasiswa ini pulang membawa bekal mental yang baru. Mereka kini tahu bahwa kuliah di UT itu bukan soal seberapa sering kamu datang ke kampus, tapi seberapa disiplin kamu membuka modul saat orang lain sibuk scrolling reels.
Selamat berjuang, Rek. Ingat, modul itu dibaca dan dipelajari, bukan ditumpuk buat bantal tidur biar ilmunya meresap lewat pori-pori kulit kepala. Nggak bakal mempan!
