- Ikbal Hakiki




UT Jember, 08042026. Ada satu hal yang sering kita lupa di tengah target, deadline, dan rapat yang kadang lebih panjang dari niat awalnya. Bahwa hidup ini bukan cuma soal selesai, tapi juga soal selamat. Selamat hati, selamat iman, selamat arah.
Di situlah kegiatan Penguatan Kecerdasan Spiritual hadir. Dengan tema yang tidak main-main panjangnya, “Merajut Ukhuwah, Tunaikan Amanah, Raih Berkah”, acara ini digelar pada 7 April 2026 di Ruang Tutorial UT Jember. Bukan sekadar formalitas pengisi kalender, tapi semacam “rem tangan” supaya kita tidak ngebut ke arah yang salah.
Kegiatan dibuka dengan sambutan dari Direktur UT Jember. Tidak banyak basa-basi, langsung ke inti yang sering dianggap sepele: “Kehangatan dalam kebersamaan selalu menjadi pondasi kebahagiaan dalam setiap hal, termasuk dalam kekeluargaan di Kantor UT Jember.” Kalimat yang terdengar sederhana, tapi kalau dipikir lagi, ini semacam tamparan halus. Kita sering sibuk jadi profesional, sampai lupa jadi manusia yang hangat.
Masuk ke sesi utama, Dr. KH. Abdul Haris, M.Ag., Kepala MUI Jember, naik panggung. Tidak membawa slide ribet atau istilah yang bikin kening berkerut. Justru sebaliknya. Pesannya lurus, tapi kena. Beliau mengingatkan bahwa kebahagiaan itu bukan hasil dari checklist yang berhasil dicentang satu per satu. Bukan juga dari saldo yang makin tebal. “Kebahagiaan kita bersumber dari Allah, kesejahteraan kita bersumber juga dari Allah, semuanya dari Allah. Maka jadikan semua hal yang baik untuk disyukuri semata karena Allah agar kita selalu ingat dan dekat dengannya.” Kalimat itu seperti menggeser sudut pandang. Yang biasanya kita kejar mati-matian, ternyata cuma efek samping. Sumber utamanya ada di tempat lain.
Di ruangan itu, tidak ada yang mendadak jadi suci. Tapi setidaknya, ada jeda. Ada momen untuk tarik napas, lalu ingat lagi kenapa kita melakukan semua ini. Bahwa amanah bukan cuma soal kerjaan selesai, tapi juga soal niat yang lurus. Ukhuwah pun tidak lagi sekadar jargon. Ia terasa, walau mungkin cuma lewat senyum kecil atau obrolan ringan setelah acara selesai. Dan anehnya, justru di situ letak berkahnya.

Kalau kamu masih mikir kuliah itu cuma soal gelar, mungkin kamu perlu lihat lebih dekat apa yang sedang dibangun di UT Jember. Bukan cuma akademik, tapi juga arah hidup. Gabung UT Jember. Biar yang kamu kejar bukan cuma sukses, tapi juga berkah yang tidak bikin kosong di dalam.

JEMBER – Ada suasana yang sedikit berbeda di halaman Kantor Universitas Terbuka (UT) Jember pada Selasa pagi, 10 Maret 2026. Bukan hanya aktivitas kantor biasa. Sejak pagi, sejumlah warga sudah berdatangan, sebagian duduk santai sambil berbincang, sebagian lain menyapa panitia yang lalu-lalang menyiapkan paket bantuan.
Hari itu, UT Jember bersama Ikatan Alumni (IKA) UT Jember menggelar kegiatan bakti sosial Ramadan 1447 H. Sebuah agenda yang boleh dibilang sederhana, tapi selalu punya tempat hangat di hati warga sekitar. Kegiatan ini memang bukan yang pertama. Setiap Ramadan, UT Jember hampir selalu menyisihkan waktu untuk hal seperti ini. Bukan sekadar program seremonial, tapi lebih seperti tradisi kecil yang dirawat bersama antara kampus, alumni, dan masyarakat sekitar.
Direktur UT Jember dalam sambutannya mengatakan bahwa Ramadan memang selalu punya cara sendiri untuk mempertemukan orang-orang dalam suasana yang lebih hangat. “Momentum Ramadan ini momen yang bagus untuk silaturahmi, bersua dan bertatap muka. Doakan UT menjadi lebih maju dan lebih jaya lagi,” ujarnya di hadapan warga dan para alumni yang hadir. Kalimat itu disambut anggukan warga yang duduk berjejer di kursi sederhana yang disiapkan panitia. Tidak ada jarak yang terasa kaku antara kampus dan masyarakat. Semua tampak cair, seperti obrolan di teras rumah sendiri.

Bagi UT Jember, kegiatan seperti ini juga menjadi cara sederhana untuk tetap dekat dengan lingkungan sekitar. Kampus tidak hanya hadir sebagai tempat kuliah, tetapi juga sebagai bagian dari masyarakat yang hidup berdampingan. Ketua IKA UT Jember juga menyampaikan harapannya agar kegiatan berbagi seperti ini tidak berhenti sebagai agenda tahunan saja. “Semoga UT Jember dan IKA UT Jember bisa selalu rutin dan berkontribusi untuk berbagi kebahagiaan bagi masyarakat,” katanya.
Ramadan memang sering disebut bulan berbagi. Tapi di halaman UT Jember pagi itu, maknanya terasa lebih konkret: berbagi waktu, berbagi perhatian, dan tentu saja berbagi kebahagiaan. Di sisi lain, kegiatan ini juga menjadi pengingat bahwa kuliah tidak selalu harus datang setiap hari ke kelas. UT Jember sendiri dikenal sebagai kampus dengan sistem pembelajaran terbuka dan fleksibel. Banyak mahasiswanya adalah pekerja, orang tua, bahkan mereka yang baru punya kesempatan kuliah setelah lama menunda. Artinya, siapa pun sebenarnya punya peluang untuk melanjutkan pendidikan tanpa harus meninggalkan pekerjaan atau aktivitas utama.
Bagi masyarakat yang ingin kuliah tapi masih ragu karena waktu, jarak, atau pekerjaan, UT Jember bisa jadi jawabannya. Sistem pembelajaran jarak jauh yang fleksibel membuat kuliah tetap bisa dijalani tanpa harus meninggalkan aktivitas sehari-hari. Ramadan memang selalu punya cerita. Dan di UT Jember, salah satu ceritanya adalah tentang bagaimana kampus, alumni, dan masyarakat duduk bersama dalam satu halaman yang sama, saling menyapa, dan pulang dengan sedikit lebih banyak senyum. Siapa tahu, dari halaman yang sama itu juga akan lahir calon-calon mahasiswa baru yang suatu hari nanti kembali sebagai alumni, lalu ikut berdiri di barisan panitia bakti sosial berikutnya. Sebuah lingkaran kecil yang terus berputar, dari berbagi ilmu, lalu kembali berbagi kebahagiaan.

Kalau ada yang masih mikir kuliah daring itu cuma rebahan sambil scroll, mungkin mereka belum kenal mahasiswa baru Universitas Terbuka Jember.
Pada 21 sampai 22 Februari 2026, sekitar 600 mahasiswa baru dari berbagai domisili wilayah kerja UT Jember resmi “digembleng” lewat OSMB dan PKBJJ daring Semester 2025/2026 Genap. Bukan sekadar formalitas Zoom dua hari lalu selesai. Ini bagian dari LPKBJJ yang wajib diikuti. Wajib. Bukan opsional.
OSMB dan PKBJJ ini jadi pintu masuk sebelum benar-benar menyelam ke sistem belajar khas Universitas Terbuka. Sistem yang tidak menunggu Anda. Anda yang harus mengejar. Sebagai bagian dari Universitas Terbuka, UT Jember menegaskan satu hal. Mahasiswa di sini belajar mandiri. Tidak ada dosen yang akan mengetuk pintu rumah Anda mengingatkan deadline. Jadi dua hari ini bukan seremoni, tapi bekal tempur. Selama kegiatan, mahasiswa dikenalkan lebih dalam pada sistem belajar UT. Mulai dari skema tutorial, pola pembelajaran daring, hingga sistem ujian. Banyak yang baru sadar kalau kuliah jarak jauh itu bukan berarti santai. Justru butuh disiplin yang lebih rapi.

Masuk ke sesi PKBJJ, materinya makin teknis. Mahasiswa dilatih mengakses UT Online. Diajak memahami cara membaca efektif, bukan sekadar baca lalu lupa. Disuruh menyusun jadwal belajar ala UT, yang realistis tapi konsisten. Karena kalau jadwal cuma indah di awal semester, nasibnya biasanya tragis di minggu ke delapan.
Kegiatan berjalan lancar. Interaksi hidup. Antusiasme terasa meski layar memisahkan. 600 orang hadir dari berbagai daerah, dengan latar belakang yang beda-beda. Ada yang sudah bekerja, ada yang fresh graduate, ada yang sambil mengurus keluarga. Satu benang merahnya sama. Mereka memilih kuliah yang fleksibel, tapi tetap menuntut tanggung jawab. Direktur UT Jember menyampaikan pesan yang tidak main-main. Mahasiswa UT harus tahu tentang UT. Wajib paham tentang UT. Karena mahasiswa adalah ujung tombak kejayaan UT. Kalimat itu bukan slogan tempelan. Kalau Anda tidak paham sistemnya, Anda akan kesulitan sendiri. Tapi kalau Anda menguasainya, UT bisa jadi kendaraan yang sangat efektif untuk naik kelas.

Menjadi pembelajar mandiri memang tidak glamor. Tidak ada tepuk tangan tiap minggu. Tidak ada absen tatap muka yang bikin Anda merasa aman. Yang ada adalah komitmen pribadi. Dan itu justru yang membedakan. Harapannya sederhana tapi serius. Mahasiswa baru tidak hanya lulus, tapi tangguh. Tidak hanya punya ijazah, tapi punya pola pikir disiplin. Tidak hanya bangga jadi mahasiswa UT, tapi paham betul cara memaksimalkan semua layanannya.
Dua hari OSMB dan PKBJJ hanyalah start. Setelah ini, yang menentukan adalah Anda sendiri. Kalau sudah memilih jadi mahasiswa Universitas Terbuka, sekalian saja total. Pahami sistemnya. Atur ritmenya. Jalani prosesnya. Karena kejayaan kampus itu, suka tidak suka, memang berdiri di atas keseriusan mahasiswanya. Dan sekarang, Anda bagian dari itu.
SELAMAT & SEMANGAT